Di malam yang gelap gulita, Alex dan Lisa melaju dengan mobil mereka melintasi jalan terpencil yang dikelilingi oleh hutan belantara. Mereka adalah pasangan muda yang sedang dalam perjalanan menuju kota kecil untuk menghadiri acara pernikahan sahabat mereka. Namun, apa yang seharusnya menjadi perjalanan biasa-biasa saja, berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam.
Tidak ada cahaya di sekitar kecuali cahaya bulan yang samar-samar menerangi jalan setapak yang berliku. Suara angin yang melolong dan dedaunan yang bergerak di pinggir jalan menambah suasana mencekam di malam itu. Tiba-tiba, mesin mobil mereka mulai berderak, dan lampu indikator mesin menyala. Mereka terpaksa berhenti di tengah jalan yang sepi, di bawah naungan pohon-pohon besar yang tampaknya lebih tua dari waktu itu sendiri.
“Mungkin hanya masalah kecil,” kata Alex, mencoba menenangkan Lisa yang mulai khawatir.
Namun, usaha mereka untuk memperbaiki mobil sia-sia. Meskipun mereka mencoba menyalakan kembali mesin berkali-kali, mobil tetap mogok di tempat itu. Sinyal ponsel mereka tidak ada, dan tidak ada rumah atau tempat untuk meminta pertolongan dalam jarak yang dekat.
Lisa melihat sekeliling dengan cemas. “Apa yang kita lakukan sekarang, Alex? Kami terjebak di sini…”
Mereka memutuskan untuk tinggal di mobil sambil menunggu matahari terbit agar bisa mencari bantuan. Namun, semakin lama mereka menunggu, semakin aneh perasaan Lisa. Dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang memperhatikan mereka dari balik pepohonan, sesuatu yang tidak terlihat tapi bisa dirasakan keberadaannya.
Sekitar tengah malam, ketika kegelapan mencapai puncaknya, mereka mendengar suara aneh di sekitar mereka. Suara langkah kaki yang tidak beraturan, seperti langkah orang yang tidak memakai alas kaki, tetapi lebih seperti langkah yang menggigil dan tak berwujud. Hatinya berdegup kencang, dan dia merasa dingin di tulang belakangnya.
“Alex, kamu dengar itu?” bisiknya dengan suara gemetar.
Alex mendengus. “Tenanglah, mungkin hanya angin atau binatang hutan.”
Namun, suara itu semakin dekat dan semakin jelas. Mereka mulai melihat bayangan-bayangan yang terlihat tidak jelas di antara pohon-pohon di sekitar mereka. Lisa meraih tangan Alex dengan erat, mencoba menenangkan dirinya sendiri, tetapi ketakutannya semakin memuncak.
Tiba-tiba, lampu mobil mereka berkedip-kedip, kemudian padam secara tiba-tiba. Mereka terdiam dalam kegelapan total, hanya terdengar napas mereka yang terengah-engah dalam ketakutan.
Lalu, tiba-tiba, suara lantunan pelan mulai terdengar di sekitar mereka. Suara yang aneh dan tidak manusiawi, seolah-olah itu bukan suara yang berasal dari dunia ini. Lisa merinding dan menutup telinganya dengan tangan gemetar, tetapi suara itu semakin keras dan semakin dekat.
Mereka merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, dan tiba-tiba, Alex melihat sesosok bayangan putih berjalan perlahan-lahan di samping mobil mereka. Bayangan itu tidak mempunyai wajah, hanya siluet yang samar-samar tampak seperti wanita dengan gaun putih yang lusuh, rambut panjang mengurai, dan langkah kakinya yang berat di atas tanah.
Lisa menjerit ketakutan, dan Alex mencoba menyalakan kembali lampu mobil. Setelah beberapa kali mencoba, lampu mobil akhirnya menyala kembali dengan sendirinya. Tanpa ragu, Alex memutar kunci dan mobil itu akhirnya berhasil menyala. Mereka tidak menunggu lebih lama lagi dan langsung memacu mobil mereka menjauh dari tempat itu dengan kecepatan tinggi.
Mereka tidak berhenti sampai mereka tiba di sebuah desa kecil di luar hutan, di mana mereka akhirnya bisa meminta bantuan. Mereka tidak berani berbicara tentang pengalaman mengerikan yang mereka alami di malam itu, tetapi ketakutan itu akan selalu menghantui mereka.
Hingga hari ini, Lisa masih memiliki mimpi buruk tentang bayangan putih yang misterius itu, dan mereka berdua yakin bahwa malam itu mereka hampir saja mengalami sesuatu yang jauh lebih buruk dari sekadar mogok di tengah jalan terpencil. Perjalanan mereka yang seharusnya membawa ke gembiraan berubah menjadi kenangan yang penuh dengan ketakutan dan kejanggalan yang tidak terlupakan.